Selasa, 03 Desember 2013

LPP-Toraja Gelar Pelatihan Promosi Wisata Online

LPPt saat Sosialisasi pelatihan dihadapan kepala Sekolah se Toraja Utara
Toraja memang sarat dengan wisata-budaya yang mencuat dari objek wisatanya. Kelebihan daerah yang disebut-sebut bakal dijadikan The Wordl Heritage (PBB-Unesco) ini pasti membutuhkan promosi. Adanya publikasi konvensional berupa selebaran, flyer, majalah dan sejenisnya tentu tidak cukup selain tidak efisien. 


Saat ini promosi global yang efektif dan efisien hanya melalui satu-satunya cara yaitu melalui media online, yang terbukti bila dilakukan mampu menyebar promosi hingga ke berbagai belahan dunia, dan dapat diakses kapanpun dan oleh siapapun. 

Melihat adanya kesempatan besar teknologi informasi (TI) yang berbasis web tersebut, muncullah Gerakan Sadar Budaya-Wisata, promosi wisata online melalui penulisan ‘Ayo kabarkan Kampungmu” yang digagas sekelompok pemuda berdomisili di Toraja, tergabung dalam Lingkar Pena Pariwisata Toraja (LPP-Toraja).

Sekertaris LPP-Toraja, Imelda Rante, Selasa (3/12/2013) di Rantepao, Toraja Utara, kepada media ini menuturkan ujudkan Visi dari Gerakan Sadar Budaya-Wisata melalui penulisan itu, LPP-Toraja berencana menggelar pelatihan penulisan yang akan menjaring anak-anak muda (siswa/siswi) usia sekolah menengah atas (SMA).

Dijelaskan pelatihan yang akan merekrut anak muda dalam LPP-Toraja hanyalah antara dari penggemblengan yang akan dilakukan usai pelatihan. “Pelatihan bukan final, yang menentukan adalah praktek dari wacana yang sudah didapatkan. Gerakan Sadar Budaya-Wisata akan terus digaungkan melalui penulisan, program yang erat kaitannya dengan menulis secara online promosikan Toraja,” ungkap Imelda.

Dunia saat ini sedemikian sempit disebabkan dampak TI, yang penggunaannya makin menunjukkan tren adanya kenaikan setiap tahun. Sebagai anak muda yang harus peduli dengan daerahnya, sedapatnya berbuat sesuai kemampuan, tambahnya.

Diketahui pelatihan yang disebut-sebut baru pertama kali di daerah ini, diharapkan lebih menggaungkan Toraja. Rencananya pada Senin-Selasa (16-17 Desember) mendatang dipastikan pelatihan ini digelar. 

Ajang pelatihan ini melibatkan sebanyak 25 peserta siswa-siswi asal SMA/SMK di Toraja Utara yang juga diantaranya datang dari Tana Toraja.  Kegiatan ini juga didukung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pokja Utara (Divisi Litbang), radio Solideo (104.7 FM) dan Toraja TV (TV Kabel) dan secara online di kabar-toraja.com

Minggu, 01 Desember 2013

Alam Toraja Simpan Bahan Dasar Warna Batik



Aktifitas membatik yang digelar di Batutumonga, Toraja Utara. Foto: Imelda 

Toraja memiliki seni ukiran khas. Berbagai motif adat yang menghias dipermukaan tongkonan (rumah adat Toraja) maupun alang (lumbung), berpotensi besardijadikan motif batik khas Toraja. Bila produksi batik Toraja digenjot dari, oleh dan untuk  masyarakat Toraja pasti berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.  

Terkait hal itu bentuk kewajiban pemerintah memberdayakan masyarakat melalui kementerian pariwisata ekonomi dan kreatif,  yang pada pertengahan bulan September 2013 lalu digelar sebuah pelatihan membatik, di Batutumonga dan Singki’, berikut laporan (karya) anggota penulisan Lingkar Pena Pariwisata Toraja (LPP-Toraja), Richard, di lokasi pelatihan. 

Ditemui dikegiatan pelatihan Koordinator pelatihan batik, Komar, menuturkan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan tumbuhan alami yang digunakan sebagai bahan dasar warna batik, menurutnya Toraja banyak menyimpan kekayaan alam salah satunya bahan dasar warna yang dibutuhkan bila membuat batik.

Bahan-bahan alami yang dimaksud adalah tanaman indigo yang banyak tumbuh liar di daerah Toraja. Tanaman ini digunakan untuk mendapatkan warna biru pada kain.
Dijelaskan Kordinator ini proses mendapatkan warna biru dengan cara seluruh bagian tanaman indigo dihancurkan, kemudian direndam hingga membusuk (mengeluarkan aroma khas)

Sekira dua hari lamanya bahan yang direndam sudah mengeluarkan aroma khas, bahan tadi dicampur dengan gula aren. Perbandingannya 1 : 1 hingga berbentuk pasta.  Hasil campuran tersebut disaring dan digunakan untuk mencelup kain yang sudah diberi malam untuk mendapatkan warna dasar kain yaitu warna biru. Komar melanjutkan Malam adalah bahan yang berasal dari sarang lebah yang telah diperas madunya yang dicampur dengan getah pinus. 

Jika selama ini sarang lebah yang telah diperas lalu dibuang begitu saja, lanjut Komar, kali ini dapat dimanfaatkan masyarakat Toraja untuk menghasilkan sebuah karya yang berujung pada peningkatan ekonomi.  

Selain tanaman indigo, tanaman Sepang (dalam bahasa Toraja dikenal dengan sebutan kayu Sa’pang) pun, digunakan untuk mendapatkan warna merah.

Bahan lain yang sudah dikenal luas masyarakat Toraja adalah batu pamaka’ yang menghasilkan warna merah. “Batu pamaka’ bagus digunakan, karena warnanya kuat melekat”, ujar salah seorang peserta pelatihan batik Toraja.  

Batik Toraja yang selama ini hanya dapat dinikmati dalam bentuk ukiran yang terdapat di rumah adat kini dapat dikembangkan dalam bentuk batik sebagai hasil dari pengembangan budaya yang kreatif.

Semoga motif Toraja sebagai salah satu kekayaan adat di nusantara ini, lebih terjamin melalui hak paten sebagai milik entitas suatu masyarakat yang berdampak pada peningkatan ekonomi (Richard).

Selasa, 29 Oktober 2013

Wisma Monica Rantepao

tampak dari seberang Jalan Wisma Monica Rantepao (foto: Melda)

Lobby Wisma Monica (Foto: Melda)

Hall Misma Monica (Foto: Melda)
Bagi anda yang berencana ke Toraja khususnya ke Toraja Utara, tempat menginap merupakan hal yang perlu dipertimbangkan. Berikut informasi mengenai salah satu penginapan, wisma Monika Rantepao.

Letak wisma Monika bisa dikatakan cukup strategis karena berada di dalam Kota Rantepao (Ibu kota Kabupaten Toraja Utara). Karena letaknya ini akses mendapatkan sarana transportasi tentu lebih mudah bagi anda yang membutuhkan. Wisma Monica berada di Jalan Sam Ratulangi No. 36 Rantepao, Toraja Utara, bersebelahan tepat dengan Rumah makan Mambo.  Wisma ini memiliki 16 buah kamar yang rata-rata setiap kamar dapat ditempati oleh 2 orang.

Disetiap kamar tersedia fasilitas berupa Spring bed, shower, hot and cool water. Namun bagi anda yang menginginkan sedikit kelebihan tersedia fasilitas TV kabel untuk kelas Superior dan Deluxe.

Sayangnya hotel ini belum memiliki website guna menunjukkan lengkap perihal kamar. Namun penulis berhasil merekam gambar diatas, Jumat (18/10/2013) yang sekiranya dapat menambah informasi yang anda butuhkan.

Berikut tarif kamar di Wisma Monica berdasarkan tipe yakni Standar, Superior dan Deluxe. Tipe Standar Rp. 250.000, tipe Superior Rp. 300.000, tipe Deluxe Rp. 350.000. Pemesanan (Booking) sebaiknya dilakukan seminggu sebelum check in.

Untuk informasi dan reservasi hubungi (0423) 21216, 081 242 502 979, 081 242 502 967. (Penulis: Melda)


Jumat, 11 Oktober 2013

Sisi lain Keunikan Toraja, Suling Te'Dek

Budaya lokal Toraja patutu dikembangkan sebagai salah satu budaya nasional, Suling Te'dek
Selain memiliki panorama dan ritual budaya yang unik, Toraja juga memiliki potensi di bidang seni musik yang tak kalah uniknya. salah satunya adalah alat musik tiup yaitu seruling bambu. Dalam masyarakat Toraja alat musik tiup ini dikenal sebagai suling te’dek atau suling lembang.

Memiliki panjang 75 cm, diameter 2 cm dengan 7 lubang, “panjangnya itu tergantung dari nada dasarnya, semakin rendah nada dasarnya semakin panjang pula serulingnya, demikian pula sebaliknya, makin tinggi sebuah nada, maka makin pendek pula serulingnya. Seperti untuk nada Cis panjang seruling 75 cm, kalau nada D, Es dan seterusnya serulingnya semakin pendek”, ujar Elyaser Palondongan, S.Th salah seorang pendeta Gereja Toraja yang mahir dalam membuat suling te’dek atau suling lembang, baru baru ini kamis (10/10/2013).


Suling te’dek atau suling lembang ini dapat digunakan pada kegiatan Aluk Rampe Matallo maupun Aluk Rampe Matampu’ atau ritual Rambu Tuka’ (upacara adat panen padi, perkawainan-Syuluran lainnya) dan Rambu Solo’ (upacara adat kematian), penggunaannya pun mengiringi syair dan lagu tertentu pada masing-masing jenis ritual.
Misalnya pada ritual rambu tuka’, jenis lagu yang diiringi adalah Passailo’, Danduru’ dalle, sedangkan pada ritual rambu solo’ jenis lagu yang diiringi yaitu Pa’marakka, Pa’katia’, dan Pa’billa’ bulo.

Baru-baru ini suling te’dek atau suling lembang dipentaskan pada kegiatan akbar rohani upacara syukur 100 tahun injil masuk toraja (IMT) yang berlangsung selama 15 hari berturut-turut (2- 26 Juli 2013). Saat itu disetiap rombongan jemaat Gereja Toraja dari berbagai daerah di Indonesia pada umumnya membawakan berbagai tarian adat dan mempertontonkan salah satu kesenian budaya Toraja yang salah satunya dikolaborasikan dengan irama gendang mengiringi pementasan tari kolosal kisah perjuangan A.A. Van De Losdrecht di Toraja.

Musik bambu ini perlu dijaga kelestariannya sebagai warisan budaya Toraja dari generasi ke generasi agar tidak punah dan tergerus oleh alat musik modern. Penulis: Imelda
informasi musik bambu lainnya, baca: Musik Bambu Warisan Budaya Lokal Toraja

Kamis, 12 September 2013

Hari Ini Atraksi Aneka Budaya di Festival Kande Api

budaya manglambuk dipertontonkan di festival Kande Api 2012 lalu (Foto: Adryan)
Sebuah even pariwisata kembali akan digelar di Toraja Utara. Kabupaten termuda di Propinsi Sulawesi Selatan ini kembali menjadi ajang gelar pariwisata “Festival Kande Api” yang akan digelar hari ini Jumat (13/9/2013).
Kegiatan yang setiap tahunnya digelar dilokasi yang sama ini di Kande Api, akan digelar berbagai aneka atraksi budaya Toraja dalam pesta syukuran panen.
Berbagai atraksi budaya Toraja diantaranya tarian magellu yang sudah terkenal itu, musik bambu, mangulak burinti (cari dan kejar puyuh di sawah. Biasanya dilakukan usai memanen), malendong (menangkap belut) lomba Manrengek Baka, gelar kuliner Toraja dan panjat pinang akan dipertontonkan masyarakat setempat.
Informasi yang diterima menyebutkan kegiatan ini diselenggarakan oleh tim kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) melalui Seksi Pengembangan Even Pariwisata di kordinir Drs Marten Ruru selaku Kepala Seksi.
Ditahun lalu gelar even yang sama juga dilakukan, yang di isi dengan event-event berkarakter budaya lokal seperti atraksi budaya, musik bambu, panjat pinang, lomba kuliner (pa’piong), berburu ayam, dan lomba ma’barattung (Petasan dari Bambu). Penulis: Admin

Senin, 09 September 2013

Dodo'-Pandin, Pemilihan Putra-Putri Wisata Toraja Utara 2013



Salah satu peserta Dodo' sedang unjuk kebolehan bakat seni memainkan alat musik tiup (Foto: Fry)


Even Dodo’Pandin adalah ajang lomba di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), di ajang yang mencari bakat dan intelektualitas yang digelar setiap tahun ini dilakukan sebagai salah satu upaya melestarikan budaya Toraja sekaligus menemukan putra putri terbaik daerah sebagai duta wisata dan budaya Toraja yang terkenal sudah mendunia dan menjadi kebanggaan propinsi Sulawesi Selatan sebagai daerah yang menjadi destinasi utama diwilayah ini.

Bila di tingkat Nasional ada Pemilihan Putri Indonesia, di tingkat Propinsi Sulawesi Selatan ada pemilihan Dara-Daeng maka di Toraja dikenal dengan sebutan Dodo-Pandin yang digelar belum lama ini Sabtu-Minggu (8-9 September) kemarin di Gedung Art Center, Rantepao, Toraja Utara diikuti sebanyak 23 Dodo'-Pandin peserta di 2013 ini (11 Perempuan dan 12 laki-laki). 

Sebagai duta wisata dan budaya yang mempromosikan pariwisata dan kebudayaan sekaligus mewakili Toraja kedepan maka selama dua hari di ajang tersebut penilaian maraton dilakukan oleh tiga orang juri, kriteria penilaian didasarkan pada pengetahuan umum terkait kemampuan berbahasa Inggris menyangkut kepariwisataan, bagaimana mengkampanyekan sadar wisata dan kebersihan, tata cara berbusana pakaian adat, dan paham motif-motif budaya yang melekat diatribut pakaian adat serta serta kemampuan pribadi dalam unjuk kebolehan membawakan tarian adat, alat musik daerah dan bakat lainnya.

Di hari pertama animu pendaftar yang mengikuti kegiatan ini cukup banyak, namun karena tidak memenuhi kriteria awal yakni maksimal berumur 23 tahun dan minimal berusia 16 tahun (laki-laki dan perempuan) dan tinggi badan minimal untuk pria 165 cm dan perempuan 160 cm akhirnya menyisakan sebanyak 23 peserta. 

Memasuki hari kedua ke 23 peserta semifinalis gagah-gagah dan cantik-cantik itu diuji kemampuan berbahasa Inggris dan peragakan busana di atas cat walk. Disini tata cara berbusana adat, paham motif-motif budaya yang melekat diatribut pakaian serta kemampuan pribadi dalam unjuk kebolehan membawakan tarian adat, alat musik daerah dan olah vokal jadi satu rangkaian penilaian juri untuk menjaring 16 Dodo'-Pandin (8 pasang) semifinalis. 

Di sesi inilah yang menjadi dasar penilaian para juri untuk memutuskan pasangan finalis terbaik (juara 1-3) yang akan mewakili Toraja Utara ke even pemilihan Dara Daeng di tingkat Propinsi Sulawesi Selatan. Di sesi kedua ini peserta diseleksi oleh tiga orang juri diantaranya Sam Barumbun juga Sekjen Lembaga Adat Toraja khusus menilai tentang pengetahuan budaya para finalis, , Ade Kres Godole staf Dinas Budaya dan Pariwisata Toraja Utara (Torut) sekaligus dosen Bahasa Inggris Akper Lakipadada menilai tentang tutur bahasa para finalis, dan juri yang ketiga Martha Rombe juga wakil ketua PKK Kabupaten Torut bidang POKJA 2 sekaligus ketua Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) MelatiTorut mengupas soal tata rias para semifinalis serta arti dan tata letak aksesoris adat. Selain memberikan penilaian para juri juga memberikan masukan, kritikan membangun dan tips-tips yang berhubungan dengan penilaian masing-masing.

Even ini semakin semarak lantaran para suporter jugateman sekolah dari para finalis, meneriakkan yel-yel bersorak-sorai membuat suasana pemilihan Dodo Pandin 2013 semakin meriah

Diakhir rangkaian kegiatan Dodo’-Pandin ini Fitria Anastasya L siswi asal SMAN 1 Rantepao keluar sebagai Dodo’ 1, dan Larasati Agustin siswi asal SMAN 2 Rantepao terpilih jadi Dodo’ II menyusul Meyske Mapaliey Katunde’ siswi asal SMA Kristen Barana sebagai Dodo’ III. Sementara keluar sebagai Pandin I Dirgantara Kata Panganan siswa dari SMAN 2 Rantepao, menyusul Chandra Palangan dan Lorenzo Noris Tombi Bara’langi. Untuk kategori Intelegencia direbut Vicharie Tiku dan kategori Favorite berhasil diraih Ningrum, di kategori berbakat juri akhirnya memilih Thamrin, kesemua kategori ini disabet Siswa-siswi dari SMAN 2 Rantepao.

Ditemui, Kordinator pelaksana, Rizal, mengatakan ketiga juara Dodo’ Pandin selanjutnya akan mewakili Toraja Utara unjuk kebolehan di tingkat propinsi nanti. “Ya, otomatis ketiga juara Dodo’-Pandin mewakili Torut ke  tingkat propinsi, untuk itu Disbudpar Torut akan menggelar MoU dengan ketiganya demi kemajuan pariwisata,” ujar Rizal.

Diketahui Disbudpar Propinsi Sulawesi Selatan melalui Seksi pengembangan Even Pariwisata turut menyuport kegiatan ini. (Penulis: Imelda/Editor: Fry)

Senin, 02 September 2013

Ini Wisata Rohani Terbesar di Indonesia

Salah satu tarian adat Toraja dipertontonkan diperhelatan wisata rohani terbesar perayaan ibadah Syukur II 100 Tahun Injil Masuk Toraja. (Foto: Dokumentasi Staff Humas dan Protokoler Torut, Ishak) 
Baru-baru ini Toraja menjadi Pusat kegiatan Wisata Rohani digelar sangat meriah bahkan bisa dikatakan langka. Jarang terjadi karena dilangsungkan besar-besaran setiap 100 tahun selain menyedot ribuan orang berpartisipasi yang datang dari berbagai daerah se Indonesia.

Kegiatan akbar dalam Perayaan ibadah syukur II 100 Tahun Injil Masuk Toraja bertempat di Kompleks Badan pekerja Sinode Gereja Toraja, mulai dari 12-25 Juli 2013, yang tak hanya dimeriahkan masyarakat di Toraja namun juga dihadiri rombongan peserta dari luar Toraja se Indonesia begitu antusias mengambil bagian dalam perayaan tersebut. Bisa dibayangkan perayaan akbar ini menyedot perhatian seluruh klasis gereja Toraja se Indonesia yang mengirimkan pesertanya dalam rombongan.

Perayaan  100 tahun Injil Masuk Toraja(IMT) yang dipusatkan di Jemaat Rantepao,  kelurahan Rantepao, kecamatan Rantepao ini langsung menjadi Ikon Wisata Rohani. berlangsung spektakuler karena kegiatannya tak hanya bernuansa rohani saja tapi juga dibalut gelar budaya-wisata dipertunjukkan para Toraja Diaspora dalam dan luar Toraja maupun khalayak umum ikut berpartisipasi selain Menteri Kesehatan dr.Nafsiah Mboi, SpA, MPH, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo beserta rombongan, beberapa Bupati Papua berserta rombongan juga utusan dari Dewan gereja Dunia.

Agenda kegiatan yang terjadwal ini mencapai puncaknya pada bulan Juli tanggal 12-17  Juli 2013, adapun acara ataupun even yang sudah dilakukan dimulai pada Jumat 12 Juli 2013, Puncak Perayaan di meriahkan oleh karnaval anak/remaja/pemuda, OIG, dan Ibadah Pembukaan rangkaian Ibadah Raya II.

Hari berikutnya Sabtu 13 Juli rombongan dari Luwu Timur mengambil bagian dengan menghadirkan  atraksi-atraksi  budaya dari  daerah mereka, seperti ma’dero’, Tarian Kuda lumping dan sebagainya, kemudian hari berikutnya disusul Kabupaten  Tana Toraja, Toraja Utara, Sulawesi barat, Sulawesi Tengah, Makassar, Kalimantan, Jawa, dan yang paling Seru adalah dari Papua, selain setiap atraksi gelar tarian adatnya yang dibawakan orang Toraja lahir, besar dan telah menetap terbilang paling banyak menyedot perhatian ribuan pengunjung juga datang membawa rombongan terbesar. Dari informasi yang didapatkan rombongan asal Papua membawa sekira 3000 orang, serta membawa Lettoan (syukuran berupa ternak) cukup banyak sepanjang perayaan IMT.

Pada puncak Perayaan IMT ini juga dihadiri Menteri Kesehatan RI. Nafsiah Mboy dan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo beserta rombongan, yang disuguhi tarian kolosal Pa’kurre Sumanga’. Tarian kolosal yang dipertunjukkan spektakuler begitu mengagumkan karena dikemas dengan luar biasa dibawakan sebanyak 450 orang remaja usia belasan tahun, membuat Menkes dalam sambutannya memuji tarian kolosal yang dilatih sekira 3 bulan persiapannya di Koordinir oleh Ibu Emmy Sambo Talesang dan Ibu Betrik.

“Sungguh suguhan budaya yang luar biasa,” ucap Menkes usai menyaksikan tari kolosal Pa'kurre Sumanga' sebelum memulai kata sambutannya.


Perayaan IMT yang bertepatan di Bulan Juli tahun 2013 ini termasuk even wisata Rohani terbesar di Toraja yang  hanya akan dijumpai di 100 tahun kemudian di tahun 2113 nanti. (Editor: Fry/Penulis: Mery L.)