Senin, 02 September 2013

Ini Wisata Rohani Terbesar di Indonesia

Salah satu tarian adat Toraja dipertontonkan diperhelatan wisata rohani terbesar perayaan ibadah Syukur II 100 Tahun Injil Masuk Toraja. (Foto: Dokumentasi Staff Humas dan Protokoler Torut, Ishak) 
Baru-baru ini Toraja menjadi Pusat kegiatan Wisata Rohani digelar sangat meriah bahkan bisa dikatakan langka. Jarang terjadi karena dilangsungkan besar-besaran setiap 100 tahun selain menyedot ribuan orang berpartisipasi yang datang dari berbagai daerah se Indonesia.

Kegiatan akbar dalam Perayaan ibadah syukur II 100 Tahun Injil Masuk Toraja bertempat di Kompleks Badan pekerja Sinode Gereja Toraja, mulai dari 12-25 Juli 2013, yang tak hanya dimeriahkan masyarakat di Toraja namun juga dihadiri rombongan peserta dari luar Toraja se Indonesia begitu antusias mengambil bagian dalam perayaan tersebut. Bisa dibayangkan perayaan akbar ini menyedot perhatian seluruh klasis gereja Toraja se Indonesia yang mengirimkan pesertanya dalam rombongan.

Perayaan  100 tahun Injil Masuk Toraja(IMT) yang dipusatkan di Jemaat Rantepao,  kelurahan Rantepao, kecamatan Rantepao ini langsung menjadi Ikon Wisata Rohani. berlangsung spektakuler karena kegiatannya tak hanya bernuansa rohani saja tapi juga dibalut gelar budaya-wisata dipertunjukkan para Toraja Diaspora dalam dan luar Toraja maupun khalayak umum ikut berpartisipasi selain Menteri Kesehatan dr.Nafsiah Mboi, SpA, MPH, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo beserta rombongan, beberapa Bupati Papua berserta rombongan juga utusan dari Dewan gereja Dunia.

Agenda kegiatan yang terjadwal ini mencapai puncaknya pada bulan Juli tanggal 12-17  Juli 2013, adapun acara ataupun even yang sudah dilakukan dimulai pada Jumat 12 Juli 2013, Puncak Perayaan di meriahkan oleh karnaval anak/remaja/pemuda, OIG, dan Ibadah Pembukaan rangkaian Ibadah Raya II.

Hari berikutnya Sabtu 13 Juli rombongan dari Luwu Timur mengambil bagian dengan menghadirkan  atraksi-atraksi  budaya dari  daerah mereka, seperti ma’dero’, Tarian Kuda lumping dan sebagainya, kemudian hari berikutnya disusul Kabupaten  Tana Toraja, Toraja Utara, Sulawesi barat, Sulawesi Tengah, Makassar, Kalimantan, Jawa, dan yang paling Seru adalah dari Papua, selain setiap atraksi gelar tarian adatnya yang dibawakan orang Toraja lahir, besar dan telah menetap terbilang paling banyak menyedot perhatian ribuan pengunjung juga datang membawa rombongan terbesar. Dari informasi yang didapatkan rombongan asal Papua membawa sekira 3000 orang, serta membawa Lettoan (syukuran berupa ternak) cukup banyak sepanjang perayaan IMT.

Pada puncak Perayaan IMT ini juga dihadiri Menteri Kesehatan RI. Nafsiah Mboy dan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo beserta rombongan, yang disuguhi tarian kolosal Pa’kurre Sumanga’. Tarian kolosal yang dipertunjukkan spektakuler begitu mengagumkan karena dikemas dengan luar biasa dibawakan sebanyak 450 orang remaja usia belasan tahun, membuat Menkes dalam sambutannya memuji tarian kolosal yang dilatih sekira 3 bulan persiapannya di Koordinir oleh Ibu Emmy Sambo Talesang dan Ibu Betrik.

“Sungguh suguhan budaya yang luar biasa,” ucap Menkes usai menyaksikan tari kolosal Pa'kurre Sumanga' sebelum memulai kata sambutannya.


Perayaan IMT yang bertepatan di Bulan Juli tahun 2013 ini termasuk even wisata Rohani terbesar di Toraja yang  hanya akan dijumpai di 100 tahun kemudian di tahun 2113 nanti. (Editor: Fry/Penulis: Mery L.)

Kopi Arabika Toraja, Kopi Spesialty

LPPT- Toraja- Kopi Arabica Toraja capai harga tertingginya saat gelar The Second Indonesia Specialty Coffe Auction. Nampak perwakilan Dari Toraja Edy Kendek (tengah baju orange) berpose bersama para jur
Siapa yang tidak kenal si hitam yang satu ini? Ya… dari aromanya yang khas, setiap orang pasti mengenalinya, Kopi Arabika Toraja.

Kopi Arabika Toraja merupakan komoditas perkebunan danpenggerak utama perekonomian masyarakat pedesaan serta sudah dikenal luas di seluruh dunia sebagai kopi Arabica Spesialty karena rasa dan aromanya yang sangat spesifik. Sehubungan dengan potensi tanaman perkebunan yang dimiliki Kabupaten Toraja Utara maka Kopi Arabika Toraja telah ditetapkan sebagai produk unggulan kabupaten (Prukab).

Sebagai Prukab maka dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Toraja Utara, Pemerintah Daerah Kabupaten Toraja Utara melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan telah melakukan berbagai terobosan kegiatan pengembangan budidaya Kopi Arabika Toraja baik melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi, serta pembinaan pengolahan pasca panen Kopi Arabika Toraja melalui pembentukan kelompok tani kopi arabika toraja di setiap kecamatan yang berpotensi mengembangkan tanaman ini.

Penting diketahui Kopi Arabika Toraja telah mengharumkan tanah asalnya pada even Lelang Kopi Specialty Indonesia 2 (The Second (2nd) Indonesia Speciallty Coffee Auction) yang diadakan di Surabaya pada Oktober 2012 lalu.

Tidak mudah jalan yang dilalui Kopi Arabica Torajatembus rekor Internasional di apresiasi satu Kilogram seharga 45 US Dollar, atau setara Rp 434.000, saat lelang di lomba kopi Internasional, 12-14 Oktober lalu, di Surabaya, Jawa Timur.

Butuh waktu 3 tahun lamanya bagi para petani Toraja asuhan Asosiasi Petani Kopi Toraja (APKT), hingga Arabica Specialty Toraja tembus rekor termahal, menyaingi 25 jenis kopi dari 600 peserta se-Indonesia saat itu.

Ketua Asosiasi Petani Kopi Toraja (APKT), Edy Kendek, mengatakan butuh kesabaran serta pelatihan intensif bagi 39 kelompok tani se Toraja yang dibina APTK, selain dibantu Penyuluh dari dinas kehutanan dan perkebunan ataupun pertanian.

Edy Kendek menceritakan, sebelum diapresiasinya Arabica Specialty salah satu persiapan yang dilakukan adalah merekrut petani, sosialisasi dengan mendatangi langsung para petani di 39 Kecamatan tersebut.

“Dari 39 kecamatan, petani yang ingin terlibat dalam pelatihan bagaimana menghasilkan kopi kualitas terbaik, kami pilih. Hasil belajar yang kami dapatkan mengenai cara tanam, budidaya, pemetikan hingga pengolahan dari Asosiasi Kopi Specialty Indonesia, itulah yang kami tularkan pada petani,” tutur Edy.

Khusus pemupukan kopi kelompok tani diarahkan memakai pupuk organik. Penggunaan pupuk kimia sama sekali tidak dibenarkan. Selain diajarkan pula bagaimana membuat pupuk organik, yang bahannya berasal dari sekitar lahan.

Setelah itu teknik pemangkasan saat pemetikan, penyortiran yang benar, cara mengupas kopi, hingga teknik fermentasi diajarkan. “Semua metode diajarkan. Khusus penjemuran dilakukan secara berulang ulang, hingga memenuhi kadar hingga 14%, lewat dari itu dijemur kembali,” jelas Edy.

Mendekati ajang lomba, imbuh Edy, penyortiran akhir dilakukan. Produk dikemas dengan paket khusus lalu dikirim ke Makassar, tiba disana lalu dikirim via udara langsung ditempatkan dalam gudang PTPN 12. Semua kopi dari para peserta dikumpulkan disitu. Mulai itulah para pemilik dilarang menyentuh kopi yang dibawa.

Selama 3 hari secara marathon test cup produk dilakukan. Selain itu sebanyak 600 peserta ikut diwawancarai seputar pengolahan produk yang dibawa, sekaligus dirangkai dengan diskusi antar peserta.

“Dihari kedua semua peserta diliburkan. Hanya panitia yang ada, untuk menentukan kontestan (test cup). Dari hasil seleksi hanya tersisa 25 jenis kopi dari berbagai daerah, yang dinyatakan memenuhi kualifikasi jenis top kopi.

Hari ketiga penyeleksian dilakukan ulang. Produk digiling halus (blender), diseduh air panas, untuk menentukan kopi mana yang beraroma dan bercita rasa lebih baik oleh para juri.
Selain menyeleksi produk, para juri juga menyeleksi peserta. Berbagai pertanyaan soal bagaimana proses cara mengolah, fermentasi dan lain-lain dilontarkan juri.

Dihari terakhir dilakukan pengumuman. Ternyata Arabica Toraja menembus rekor internasional. Tahun lalu hanya diapresiasi sebesar 32 US Dollar, namun kali ini mencapai rekor tertinggi  jadi 45 US Dollar. Saat dilelang pembeli asal Australia, Thailand dan Indonesia berlomba lakukan pembelian.

“Akhirnya pembeli asal Surabaya yang berhasil membawa pulang 600 Kg kopi yang kami bawa,” pungkas Edy. Penasaran dengan cita rasa asli Kopi Arabika Toraja? AyooKe Toraja. (Editor: Fry/Penulis: Imelda)

100 Tahun Injil masuk Toraja Bawa Berkah Bagi Pedagang

Pedagang ketiban rejeki saat perayaaan 100 Tahun Injil MAsuk Toraja II digelar
LPPT- Toraja Utara- Perayaan ibadah syukur II 100 Tahun Injil Masuk Toraja (IMT) juga dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para pedagang yang ikut merasakan dampak positif kegiatan ini.

Seperti biasanya dalam acara-acara meriah yang banyak menyedot perhatian massa, pedagang pun turut manfaatkan dengan menjual barang dagangan yang berhubungan dengan acara tersebut. Entah itu pernak-pernik seperti  kaos, gantungan kunci, pin, bahkan sampai penjual makanan dan balon untuk anak-anak kecil, mulai dari tanggal 12-26 Juli di sekitar pusat kegiatan 100 Tahun IMT kompleks Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja pedagang menjajakan barang dagangannya.

Seperti yang terlihat para pedagang ini mendirikan lapak dadakan memanfaatkan ruang kosong yang ada disekitar perayaan 100 tahun IMT. Mulai dari kaos, gantungan kunci, payung hingga stiker yang menonjolkan logo serta tag line 100 tahun IMT, buku, makanan kecil, balon aneka warna untuk anak-anak, es cendol hingga pernak-pernik bernuansa budaya Toraja maupun kantin bermunculan saat itu. Selain itu momen ini juga dimanfaatkan tukang foto yang mendadak bermunculan mencoba peruntungan dengan memotret para kontingen dari berbagai daerah yang ikut berparade.

Salah satu pedagang yang ditemui ibu Hermin yang mengaku rombongan dari jemaat Ebenhaezer Palopo, mengatakan lebih dulu sampai ke Rantepao dengan menyewa mobil carteran. Dirinya lebih dulu sampai di pusat kegiatan “ya saya datang lebih dulu ke acara ini, karena membawa barang dagangan,” ujar Hermin yangs sedang menggelar barang daganganya berupa makanan ringan, minuman bersoda, air mineral, kacang kulit, rokok hingga permen.

Selain Ibu Hermin beberapa organisasi masyarakat daerah Toraja seperti kuliner Toraja, Perantau peduli Toraja Solata Social Network sambil mengikuti kegiatan yang hanya akan ditemui di 100 tahun berikutnya turut menggunakan momen baik ini dengan memasang sejumlah stand menjual barang-barang kerajinan Toraja.

Tak jauh dari pusat kegiatan di lokasi yang dikenal dengan sebutan Pertokoan penjual berbagai pernik khas Toraja menawarkan dagangannya. Ditempat ini selain saat high season (musim wisatawan) berkunjung ke Toraja nampak semakin ramai.

Perayaan Ibadah Syukur II 100 Tahun IMT tak melulu bernuansa kerohanian. Kegiatan akbar yang menyedot banyak perhatian ini selain berbagai kegiatan budaya digelar juga berdampak positif pada roda perekonomian. (Editor: Fry/Penulis: Norpa Palayukan)

Minggu, 01 September 2013

INDO TALONDO, NENEK BERAMBUT PANJANG PENUNGGU AIR TERJUN TALONDO



Indo' Talondo Ne' Sewa Rambut 4 meter

Dia akrab dipanggil dengan sebutan Indo’ Talondo karena Nenek yang memiliki rambut panjang sepanjang 4 meter ini adalah nenek penunggu Air terjun Talondo. Indo’ Talondo atau kerab juga dipanggil Ne’ Sewa bernama Asli Lai’ Bungan yang kini berusia 60 tahun menjadi generasi penerus penunggu air terjun Talondo. Meskipun umurnya sudah 60 tahun namun nenek satu ini masih kuat dalam berjalan menempuh perjalanan jauh naik turun tebing dan lembah karena kondisi tempat beliau tinggal memang belum bias diakses dengan kendaraan.  Indo Talondo atau Ne’ Sewa ini memiliki family yang seangkatan juga dengan dia dan  memiliki Rambut jauh lebih panjang.

Ne’ Semu ( Lai’ Tasik ) panjang rambut 24 meter

Adalah Nenek Semu ( Lai Tasik ) 70 Tahun warga SaluTandung Lembang Salutandung Kecamatan Saluputti Toraja memilik panjang rambut 24 meter yang di pelihara sejak kecil.  Rambutnya hanya sekali dipotong waktu kecil namun nenek ini ketika rambutnya dipotong dia jatuh sakit..
Nenek Pemalu ini saat
keluar atau bepergian rambutnya digulung diatas kepalanya kemudian ditutupi dengan kain Selendang sehingga tidak banyak yang mengetahui kalau nenenk ini memiliki rambut yang panjang. Menurutnya rambut sang Nenenk ini memiliki kekuatan dan tidak boleh menyentuhya  tanpa ijin yang empunya.
Makanya saat rambut sang Nenek ini saat diliput dan akan diukur diharuskan permisi dulu dengan cara memukul mukulkan ke kepala beberapa kali dan mencium rambutnya..
Nenek ini meski berumur 70 tahun namun
beliau juga  masih kuat dan sehat masih mampu berjalan turun naik gunung, terbukti saat berjalan dari Salutandung sampai di Tongkonan Rate Balepe' dengan berjalan kaki.

 

                   AIR TERJUN TALONDO ( Tallu Pakkara )

Air Terjun Talondo
  Air terjun Talondo (Tallu Pakkara) terletak di kecamatan  Malimbong Balepe’ sekitar 30 Km dari kota  Makale Tana Toraja. Lokasinya yang masih sangat asri dan Natural karena belum banyak tersentuh oleh tangan-tangan manusia, serta letaknya yang masih ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 8 KM.  
Air Terjun Talondo merupakan air terjun yang cukup unik karena sumber airnya berasal dari dua anak sungai yang berbeda yang membentuk tiga pancuran air terjun.  Sungai yang sebelah kanan adalah Sungai Pekalian sedangkan sisi sebelah kiri adalah Sungai Rabung yang kemudian bergabung membentuk sungai yang disebut Sungai Talondo.
Di bawah ketiga air terjun tersebut terbentuk sebuah kolam yang berukuran cukup besar dan sangat dalam.  Di dalam kolam tersebut banyak ditemui sejenis Belut besar yang dalam bahasa Toraja disebut Masapi ( MIA ). Menurut Masyrakat setempat bahwa Ikan yang ditangkap dikolam ini tidak boleh dimakan dan jika ini dilanggar akan terjadi sesuatu bencana terhadap keluarga dan kampong tersebut, Kecuali jika ikan tersebut sudah keluar dari tempat itu dan ditangkap di jauh dari Kolam itu.
Keunikan lainnya dari air Terjun ini adalah bahwa dipinggir sebelah dalam dari Kolam tersebut terldapat sebuah sumur yang dikelilingi oleh Tebing curam yang menjadi dinding dari Kolam tersebut, dan sumur itu tepat berada dibawa tempat jatuhnya air terjun sehingga untuk mencapai tempat tersebut tidak mungkin tanpa berenang melewati Kolam. Melihat dari strukturnya bahwa kolam tersebut sepertinya sering digunakan. Konon kabarnya Sumur ini adalah tempat pemandian sang penunggu Air terjun itu yang tak lain adalah Orang tua dari indo’ Talondo yang kemudian dilanjutkan dengan generasi berikutnya yaitu Indo Talondo itu sendiri. Menurut Kisah Indo’ Talondo bahwa untuk mencapai sumur tersebut Digunakan semacam rakit yang terbuat dari Tumbuhan gabus kecil yang orang Toraja biasa sebut Tille.
Indo Talondo yang kini menjadi penerus penghuni dan penunggu Air terjun Talondo menceritakn banyak kisah mistis yang terdapat di Air terjun Talondo ini antar lain bahwa air yang berasal dari Air terjun ini diyakini bias menyembuhkan berbagai macam penyakit, serta keunikan2 lainnya dan untuk berenang disana harus seijin Indo Talondo karena menyangkut berbagai pantangan…(htp) By Herson, Terima Kasih buat Kunjungannya

<marquee>TEKS YANG BERGERAK</marquee> 

<marquee>TEKS YANG BERGERAK</marquee> 
 

Rabu, 28 Agustus 2013

Tentang Lingkar Pena Pariwisata Toraja (LPPT)


Para Peserta Pelatihan Menulis di Internet, Rantepao, Toraja Utara (19 agustus 2013) berpose dengan panita dan pemateri
Lingkar Pena Pariwisata Toraja (LPPT) adalah sekelompok orang-orang muda yang datang dari berbagai profesi aktif dalam kegiatan tulis menulis mengenai Pariwisata di Toraja.

Para anak muda yang didalamnya ada Jurnalis, pegawai intansi pemerintah, juga wiraswasta di daerah Kabupaten Toraja Utara ini lahir untuk berperan dalam pembangunan daerah berbasis pariwisata selain sudah mendunia, Toraja.

Sadar ataupun tidak bergeraknya daerah yang sarat budaya hingga menjadikan salah satu  daerah di Sulawesi Selatan ini (Toraja Utara dan Tana Toraja) menjadi destinasi utama wisatawan dalam dan luar negeri karena pariwisatanya. Pariwisata sangat berdampak pada semua sektor kehidupan, Industri kerajinan, perdagangan, travel, restoran/rumah makan hingga pendidikan merupakan satu bagian yang tidak bisa dipisahkan.

Sejarah lahirnya LPPT yang sebelumnya digelar sebuah kegiatan "Pelatihan Menulis di Internet" oleh Dinas Propinsi Sulawesi Selatan pengembangan even pariwisata, pada Kamis (19 Agustus 2013)di Rantepao, Toraja Utara. Melihat momen baik tersebut yang kemudian para pesertanya menggunakan kesempatan berharga ini menggagas pentingnya sebuah komunitas penulis.

Komunitas ini terbilang baru di Toraja. Dalam artian baru terbentuk komunitas sejenis selain orang-orang yang tergabung didalamnya masih perlu melakukan pembelajaran dalam hal penulisan.
Namun dari semua itu ada satu kesadaran yang sudah mulai menggumpal diantara kami bahwa tanpa peran masyarakat maka apapun yang dilakukan oleh para stakeholder pariwisata (pemerintah, Industri pariwisata, Akademisi) mendorong pariwisata tak akan membuahkan hasil seperti yang diharapkan. 

Sumber Daya Manusia (SDM) lokal ikut dilibatkan , didorong kesadarannya membangun daerahnya sendiri, hingga tujuan yang sebenarnya ingin dihasilkan dari terciptanya pariwisata adalah terciptanya ekonomi masyarakat mandiri, dari, oleh dan untuk masyarakat, inilah ekonomi kerakyatan. 

Kepada para pembaca yang menyempatkan diri membaca tulisan hasil reportase (kami namakan reportase karena masih berproses belajar tulis menulis), ini merupakan karya otentik pemuda-pemudi Toraja. Saat anda membaca artikel ini maupun artikel lainnya, bagaimana dalam aktivitas  utama kami, semua yang berada dalam LPPT berusaha menyempatkan diri disela-sela kesibukan mencari, mengolah informasi langsung dilokasi, daerah kelahiran kami Toraja hingga informasi yang up to date tersaji dihadapan anda. 

Kami memohon maaf jika ada artikel yang masih kurang informatif maupun kurang benar dalam penulisan. Kami masih belajar karena selama hidup belajar memahami sesuatu tak akan pernah lekang oleh waktu.

Diketahui LPPT juga didukung penuh portal berita KABAR-TORAJA.COM juga Persatuan Wartawan Indonesia Pokja Toraja Utara (PWI Pokja Torut), selain para pegiat media dan IT berbasis web asal Makassar, yang diharap melalui pelibatan semua komponen dalam masyarakat pariwisata Toraja menjadi sebuah alternatif kebanggaan Sulawesi Selatan setelah Bali di tingkat nasional. 

Selain menginformasikan informasi pariwisata di daerah berbasis wisata-budaya, Toraja, kami juga mengajak bersama-sama untuk menjadi pelaku pariwisata yang bertanggung jawab. Hal ini akan nampak pada setiap informasi bahwa, ada hal-hal yang harus dijaga demi berlangsunngnya situs-situs budaya, alam dalam masyarakat, jika kita masih ingin melestarikan hal-hal ini kepada generasi mendatang. 

Mari saling berbagi informasi maupun pengetahuan. Karena dengan saling berbagi, menurut kami adalah rumus kesuksesan bermuara pada kebahagian sejati. Hidup adalah Roh dan Daging (jasmani dan rohani). Jika keduanya diseimbangkan tak ada lagi kebahagiaan lain setara dengannya.

Semangati kami, dukung kami anak-anak muda Toraja mencoba berkiprah sempatkan waktu dalam mendorong pariwisata yang sekiranya akan berguna juga bagi anda bila suatu saat berkunjung ke daerah yang sebentar lagi menjadi tambahan kebanggaan Indonesia , ditetapkan menjadi World Heritage oleh PBB (UNESCO). Salam sukses dan sehat 100% dimanapun anda berada. Sampai bertemu dengan kami di Toraja. Salama, Tabe'.

Alamat Sekretariat: Jalan Abdul Gani No.7 Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan

Informasi dan berbagai iven (Video, foto)wisata dan lainnya ke email: komunitaspenulistoraja@gmail.com atau torajatravelblog@gmail.com / No.Kontak Pengurus: 0813-5516-9140 atau 085341413330 / Black berry PIN 2AB22ED5 / 25C2C895 / Face Book Group Lingkar Pena Pariwisata Toraja


(Pengurus LPPT)

Selasa, 27 Agustus 2013

Pango-Pango Negeri Di Atas Awan


Pango-Pango


Tingginya 1.643 meter di atas permukaan laut. Tanahnya cocok untuk ditanami buah-buahan dan sayur-sayuran. Udaranya sangat dingin dan pada jam-jam tertentu, berkabut. Dari tempat ini, hampir seluruh wilayah kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, bisa terlihat. Bahkan, jika cuaca sedang bagus, hamparan area persawahan di Sidrap dan Pinrang, juga bisa dilihat. Demikian pula dengan kota Pare-Pare. Jika areal sekitar bukit berselimut awan berdiri di tempat yang bernama Pango-Pango ini, serasa berada di awan, ibarat kita sedang mendiami di atas awan.
Kawasan Pango-Pango, baru dibuka, lebih tepatnya terbuka dan diketahui khayalak, sekitar dua tahun belakangan ini. Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung, cukup visioner untuk melihat kawasan ini sebagai sesuatu yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan agrowisata; yang memang belum ada di Tana Toraja maupun Toraja Utara.
“Memang baru-baru sekali ini jalan dibuka ke sini. Sudah banyak juga orang yang datang ke sini, sejak kunjungan Pak Bupati tahun lalu,” ujar Papa Lian, seorang warga yang sudah lama berdiam di Pango-Pango.
Di kawasan perbukitan Pango-Pango memang sudah ada penduduk lokal yang mendiami daerah ini sejak lama. Dalam beberapa kesempatan, bupati Theofilus Allorerung, memang selalu melontarkan pernyataan bahwa pemerintah akan mengembangkan Pango-Pango sebagai kawasan agrowisata. Rencana ini bukan hanya sekedar mimpi semata. Saat ini, pemerintah sudah membuka akses jalan dan beberapa infrastruktur lainnya ke kawasan itu. Akses ke Pango-Pango pun mulai terbuka dan bisa dikunjungi oleh wisatawan.
Sebagai kawasan agrowisata, menurut Theofilus, pemerintah tidak akan mengambil alih pengelolaan kawasan. Masyarakat setempat, kata dia, akan diberdayakan untuk mengoptimalkan kawasan ini. “Pemerintah hanya berfungsi sebagai fasilitator dan pendorong saja. Juga promosi. Tentu sarana dan prasarana pendukungnya akan dibangun pemerintah,” katanya.
Pemerintah, kata Theofilus, akan menyediakan bibit tanaman, baik buah-buahan dan sayur-sayuran, juga penyuluhan dan pendampingan. “Manfaat ekonominya harus dinikmati oleh masyarakat di sini. Itulah fungsi pemberdayaan pemerintah,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga akan mengambil peran di sisi pemeliharaan dan perlindungan alam dan keanekaragaman hayati yang ada di kawasan ini. Bahkan, pemerintah sudah menjalin kerja sama dengan beberapa pakar, untuk mengembalikan atau mengadakan bermacam jenis burung-burung, yang bisa menambah daya tarik kawasan. Pemerintah juga akan membangun menara di puncak bukit, yang dilengkapi dengan teropong, agar para pengunjung bisa melihat dan menimati alam Sulawesi Selatan dari tempat ini.
“Mimpi saya, semua orang yang datang ke sini bisa menikmati kekayaan alam, pemandangan, dan produksi petani setempat. Saya kira tidak banyak tempat di Indonesia yang bagus seperti ini. Saya juga yakin, semua orang yang datang ke sini tidak akan kecewa,” ujar Theofilus, sedikit promosi....(htp)